HARI ITU
Di pagi yang cerah, sang surya mulai menampakkan sinarnya
dari ufuk timur. Perlahan-lahan bumi mulai tampak karena sinarnya. Si jantan
pun mulai berkokok bersaut-sautan. Kecerahan pagi itu membuat Lili terbangun
dari tempat tidurnya untuk memulai aktivitasnya.
“ Kak, bangun! Sudah jam setengah enam “. Ucap Lili sambil
menutup mulutnya yang sedang menguap itu.
“ Iya, sebentar lagi. Jawab Lala.
Setelah Lala membangunkan tubuhnya dari ranjang tempat mereka
tidur, ia pun menuju ke kamar mandi. Sedangkan Lili yang sedaritadi bangun
labih awal, merapikan tempat tidurnya. Ia tampak rajin sekali merapikan tempat
tidurnya. Aktivitas itu dilakukannya setiap pagi oleh Lili. Jarang sekali kakaknya
merapikan tempat tidur mereka berdua.
---------------------
Setelah selesai sarapan, Lala dan Lili berpamitan kepada Papa
dan Mamanya. Mereka berdua selalu berpamitan kepada orang tuanya sebelum pergi
ke suatu tempat.
“Lala juga ya Ma, pa”. Kata Lala.
“ Iya nak, hati-hati dijalan. Nanti kalau sudah pulang
sekolah, langsung pulang ya. Jangan main-main”. Ucap Ibu Riska terhadap kedua
anak perempuan yang disayangnya.
Setelah
selesai bersalaman, Lala dan Lili menuju ke depan garasi rumah. Mereka menuju
mobil merah yang siap dikendarai oleh pak Man tukang sopir yang kini sudah 5
tahun bekerja dengan Ibu Riska dan juga Pak Rudi. Mobil itu mulai melaju
perlahan kemudian mulai berjalan kencang melintasi jalan raya menuju ke sekolah
kedua anak majikannya. Terlihat jalan raya yang dilewatinya sudah ramai
dikerumuni oleh banyaknya gerobak modern yang tampak begitu mewah yang berlalu-lalang
menuju gedung megah yang dinantikannya. Seperti biasanya, jika mereka berdua berangkat
menuju kesekolah, Lala duduk dimobil dengan memegang HP kesayangannya. Sedangkan
Lili hanya duduk manis melihat –lihat keramaian kota Jakarta. Tak lama
kemudian, Pak Man menghentikan mobilnya persis didepan sekolah Lala dan Lili
Yaitu SMA Dharma Putra. Mereka berdua beranjak dari tempat duduk dan segera
membuka pintu mobil untuk keluar. Lala mulai berjalan menuju gerbang sekolah
yang terbuka lebar-lebar.
“ Pak, nanti njemputnya jangan telat”, Ucap Lili kepada
sopirnya.
“ Iya neng!”, jawab pak Man dengan singkat.
Mobil itupun
melaju untuk perjalanan kembali kerumah. Kemudian Lili berjalan cepat dengan
tujuan untuk menghampiri Lala yang sudah berada di dalam sekolahan. Setelah
mereka berjalan bersama menuju ke kelas, bel pun berbunyi tanda untuk memulai
pelajaran pertama. Mereka berdua cepat-cepat menuju ke kelas sebelum Ibu guru
datang.
Lili segera
duduk dikursi yang kosong dan menyiapkan buku tulisnya untuk pelajaran. Jam
pelajaran pertama di isi oleh Bu Rini. Ia mengajar mata pelajaran biologi
dikelas X.
Pelajaran hari
itu berjalan dengan cepat. Setelah selesai palajaran, Lala keluar kelas dan langsung menuju ke pintu gerbang. Namun Lili
masih berada didalam kelas membereskan buku-bukunya yang tadi digunakan. Ia
tampak lemas saat memasukkan buku tersebut kedalam tasnya.
Saat berada di
perjalanan menuju keluar sekolah, tiba-tiba wajah Lili nampak pucat dan ia
berjalan sangat lambat karena ia merasa pusing. Melihat keadaan Lili dari jauh,
Lala menghampirinya.
“ Li, kamu kenapa? Kamu kok pucat banget”. Suara itu
terlontar dari mulut Lala.
“ Emm, tidak papa kok,,,”. Jawab Lili menampakkan bahwa ia
menyembunyikan sesuatu dari Lala.
“ Kamu nggak enak badan ya, kita ke UKS sebentar yuk”, kata
Lala lagi.
“ tidak usah, aku hanya nggak enak badan. Nanti aku istirahat
dirumah saja, toh kata mama kita jangan pulang telat”. Ucap Lili.
“ Ya sudah kalau mau Mu begitu. Kita pulang sekarang”.
Lili menganggukkan
kepalanya menunjukkan bahwa ia setuju dengannya. Mereka menuju ke mobil yang
sudah berhenti sejak tadi.
--------------------------
“Ma, Mama, aku sudah pulang.” Suara Lala yang terdengar dari
depan pintu rumah.
“ Iya, sini sayang”. Ucap Mamanya.
Kemudian Lala
mencium kening mamanya dan kemudian menuju kekamarnya. Tak ketinggalan, Lili pun
juga menghampiri mamanya dengan tubuh yang lemas dan wajah yang pucat. Lebih
pucat lagi dari tadi waktu berada disekolah.
“ Ya ampun Lili, kamu kok pucat banget. Mama bawa ke rumah
sakit ya?” Ucap mamanya.
“Gak usah ma, Lili istirahat di rumah saja” jawab gadis manis
itu dengan suara sedih.
Mendengar jawaban dari Lili, mamanya hanya bisa diam karena
sudah mengenal wataknya yang keras kepala.
Setelah Lili mencium tangan mamanya, Lili berjalan menuju
kamarnya. Saat Lala dan Lili berada di kamar, tak lama kemudian Papa dan
Mamanya masuk ke kamar menghampiri kedua anaknya.
“Nak, kamu tahu tidak, besuk tanggal berapa ? tanya Bu Riska
kepada Lala yang sedang asyik membaca buku.
“ Tahu mah, besuk tanggal 29 mei, memangnya ada apa ma ?”
tanya Lala.
Masak, tidak tahu, besuk kan ultahnya Lili.” Jawab papa dan
mamanya.
“Oh iya pa,ma. Jangan keras-keras bilangnya. Besuk kita
rayain ultahnya ya,” kata Lala dengan suara lirih agar suara itu tidak
terdengar Lili yang terlelap tidur karena tidak enak badan.
“ Iya, mama sudah siapkan semuanya. Dari tempat pesta,
undangan untuk teman-teman Lili dan kue tartnya. Kebetulan besukkan hari minggu
jadi mama dan papa ngerayainnya sekitar jam 13.00”, jelas mamanya.
Mendengar penjelasan dari kedua orang tuanya, Lala sangat
senang karena bisa ngerayain ulang tahun adiknya. Padahal dua bulan sebelumnya,
papa dan mamanya telah ngerayain ulang tahun Lala. Setelah mereka berbincang
bincang, mereka bertiga keluar dari tempat tidur dan akan menuju ke ruang
keluarga untuk berkumpul bersama.
-----------------------------
Keesokan harinya, sengaja Lala bangun pagi-pagi karena ingin
menyiapkan sesuatu untuk adik tercintanya. Ia ingin memberikan kejutaan kepada
saudaranya itu. Ia akan menyiapkan segala sesuatu untuk Lili. Tapi, Lili
bingung kenapa kakaknya sibuk sendiri dari pagi tadi. Kemudian Lili pun
menghampirinya dan bertanya kepada kakanya.
“ kak sebenarnya ada apa ? kok kakak cari-cari gaun pesta ?”.
tanya lili kepada kakaknya.
“ lah, kamu sekarang ulang tahun kan ?” balik tanya kepada Lili.
“ oh iya kak, aku kok bisa lupa ? padahal dua hari sebelumnya
aku ingat dan ingin minta kado sama Papa.” Jawab Lili.
“ ya, nanti jam satu siang ada surprise buat kamu. Pokoknya
kamu tenang aja. Biar kakak nyiapin baju pesta buat kamu”.
“ emangnya sekarang ada pesta ulang tahun buat ku ? “ tanya
Lili lagi.
“ ada deh, pokoknya surprise buat kamu”. Jawab Lala.
Setelah mereka
berbincang-bincang dan sudah menemukan gaun yang tepat bual Lili, Lala akhirnya
keluar meninggalkan kamarnya untuk pergi ke toko membeli kado buat Lala.
Sedangkan Lili hanya termenung di kamar dan menanti-nanti kejutan dari kakak
dan orang tuanya. Lili merasa senang karena akan medapat kejuatan itu.
Setelah Lili
lama menunggu kehadiran kakaknya yang tadi hilang tanpa diketahuinya, ia
melihat kakaknya dari jendela kamar atas membawa tas plastik yang sepertinya
habis dari toko.tas itu dimasukkannya kedalam mobil. Saat Lala masuk kamar
kemudian Lili bertanya kepada Lala.
“ kak, tadi bawa apa ? kok tas plastiknya besar banget.”
Tanya Lili.
“ itu sesuatu buat orang yang kakak sayangi” jawab Lala
dengan tersenyum.
“ itu kado buat aku ya kak ?” tanya Lili lagi.
“ada deh, eh sekarang kakak mau lihat kamu pakai gaun yang
tadi kakak pilih buat kamu. Sekarang di pakai ya ?” kata Lala.
Mendengar ucapan dari kakaknya, Lili pun menuju ke kamar
mandi yang berada di pojok ruangan tempat tidurnya. Setelah Lili melihatkan
dirinya mengenakan gaun berwarna Merah muda itu, Lala terkejut melihatnya.
Adiknya terlihat cantik dan anggun. Setelah lala terpesona melihat kecantikan
adiknya, ia pun langsung merias wajah Lili karena jam sudah mununjukkan pukul
duabelas. Lala asyik merias wajah Lili karena ingin segera melihat hasil riasan
dari dirinya dan ingin melihat Lala lebih cantik saat pesta nanti. Setelah selesai
merias wajah Lili, tiba-tiba papa dan mamanya datang. Mereka berdua juga kagum
melihat kecantikan Lili.
“ waduh, anak Mama cantik banget”, kata Mamanya.
“ trima kasih ma,” jawab Lili.
“ Lili, sekarang kita keluar sebentar yuk. Papa dan Mama
sudah nyiapain surprise buat kamu”. Ucap Papanya.
“ sebentar pa, ma, Lala ganti baju dulu”. Kata Lala.
“ iya, kami tunggu di luar ya”, jawab Mamanya.
“ siap”, kata Lala.
Mereka bertiga akhirnya keluar meninggalkan Lala di kamarnya
untuk ganti pakaian. Setelah limabelas menit berlalu, Lala menuju ke garasi
depan menghampiri mereka bertiga.
“ ma, aku sudah siap”. Teriak Lala dari pintu depan.
“ oke sekarang kita berangkat”. Kata Papanya.
Mereka berempat masuk ke mobil yang sudah siap dikendarai
oleh pak Man. Mobil itu melaju dengan cepat menuju ke suatu tempat. Lili Hanya
diam di Mobil karena Ia menduga bahwa mobil ini akan menuju ke tempat acara pesta ulang tahunnya.
Ternyata dugaan Lili benar. Mobil itu berhenti di pinggir jalan dekat tempat
pesta ulang tahun. Mereka kemudian turun menuju ke tempat tersebut dan Lala
segera mengambil kado spesial. Lala dan Lili hanya berjalan dibelakangnya.
Setelah berada di depan pintu, Lili disuruh papanya untuk membuka pintu. Lili
sangat terkejut melihat semua yang ada di dalam ruangan itu. Teman-temannya
menyanyikan lagu happy birthday. Lili
sangat senang sekali. Setelah selesai menyanyikan lagu untuk Lili, mamanya
berjalan menuju meja yang di atasnya sudah ada
kue tart dengan lilinnya. Semua orang pun mengikuti mamanya Lili.
Kemudian Lili mendekati mamanya dan ia disuruh untuk meniup lilinnya. Tapi,
belum sempat Lili meniup lilinnya, ia pingsan. Semua orang yang ada di ruangan
tersebut kaget dan sedih melihat Lili pingsan. Tak berlama-lama, papanya
menggendong Lili untuk di bawa ke rumah sakit. Lala dan mamanya membuntuti
papanya yang berjalan cepat agar Lili sampai di rumah sakit. Lala berjalan
sambil menangis karena sedih melihat adiknya yang belum sempat merayakan ulang
tahunnya sudah jatuh pingsan tanpadiketahui apa penyebabnya.
Setelah berada
di rumah sakit, mereka bertiga menunggu hasil laporan pemeriksaan dokter di
ruang tunggu dekat ruangan Lili di periksa. Mereka hanya diam dan berdoa supaya
Lili dalam keadaan baik-baik saja. Tetapi, harapan itu hilang setelah dokter memberikan
laporan pemeriksaan tentang Lili. Ternyata Lili mempunyai penyakit jantung.
Penyakit itu diderita Oleh Lili sudah lama. Sering kali Lili terlihat pucat,
tetapi kepucatan di wajah Lili itu tidak disadari oleh keluarganya bahwa itu
adalah gejala dari penyakit jantung. Mendengar cerita dokter seperti itu, Lala
dan kedua orang tuanya hanya bisa berharap dan berdoa lagi agar Lili diberi
kesembuhan dari penyakitnya.
0 komentar:
Posting Komentar